..Shalat hingga Fajar di Malam Pengantin..

Seorang perempuan tabi’in yang tumbuh bersama sumber ilmu, seperti Ummul Mukminun Aisyah binti Abu Bakar ra, Ali bin Abu Thalib ra dan Hisyam bin Amir ra, adalah Muadzah binti Abdullah Al-Adawiyyah Al-Bashriyyah. Ia menyerap banyak pengetahuan dari mereka. Tidak hanya menjadi ‘murid’, Muadzah Al-Adawiyyah pun pernah menjadi guru bagi beberapa ulama, misalnya Abu Qilabah Al-Jurmi, Ishaq bin Suwaid dan Ayyub As-Sakhtiyani.

Kecintaannya pada Allah swt ia buktikan lewat kegemarannya membaca Al-Qur’an saat subuh dan shalat yang senantiasa ia tegakkan. Setiap waktu ia tak lepas dari rutinitas ini. Bahkan di hari pernikahannya, Muadzah dan suaminya, Shilah bin Asyyam Abu Ash-Shahba Al-Adawi Al-Bashri, seorang tabi’in terhormat, menghidupkan malam pengantin mereka dengan tenggelam dalam kenikmatan beribadah.

Usai resmi menjadi suami istri dan berada dalam satu rumah, Shilah mengucapkan salam kepada istrinya. Muadzah pun menjawab dengan lembut. Namun, alih-alih mendekati sang istri, Shilah langsung berdiri dan shalat.

Melihat hal itu, Muadzah tak tersinggung sama sekali. Ia pun ikut berdiri dan mengikuti suaminya. Keduanya larut dalam shalat hingga fajar menyingsing. Saking nikmatnya “bertemu” dengan Tuhan, dua sejoli ini tak ingat bahwa mereka tengah berada di malam pengantin mereka.

Keesokan harinya, keponakan Shilah, yang merias Muadzah saat menjadi pengantin, mendatangi rumah pamannya itu. Ia terkejut mendapati keduanya tengah khusyuk shalat.

Apa yang dilakukan Muadzah dan Shilah tak lain adalah mengharap ridha Allah swt semata. Muadzah pun bergembira mendapatkan suami yang lebih mencintai Allah dibanding dirinya. “Abu Ash-Shahba selalu shalat hingga tak mampu datang ke tempat tidurnya kecuali dengan merangkak,” begitu Muadzah melukiskan kesibukan beribadah suaminya.

Kedekatannya dengan Allah menjadikan Muadzah mukminat yang sabar dan ikhlas atas segala peristiwa yang ia alami. Ini tergambar saat suami dan anak tercintanya meninggal dunia. Kepada orang-orang yang datang dan ingin menyampaikan belasungkawa, ia bahkan mengatakan, ”Selamat datang kepada kalian jika kalian datang untuk menyampaikan ucapan selamat. Namun jika kalian datang bukan untuk tujuan tersebut, pulanglah.”

Sepeninggal suaminya, Muadzah tetap melewati hari-harinya dengan terus beribadah kepada Allah. Hingga ketika mendapatkan firasat bahwa maut akan segera menjemputnya, Muadzah menjadi lebih sering menangis dan tertawa. Ketika ditanya, ia menjawab, “Tangisanku adalah karena perpisahan dengan puasa, shalat dan zikir. Sedang tawaku adalah karena aku melihat suamiku telah menyambutku di ambang pintu sambil membawa dua kalung berwarna hijau. Dan ia bersama rombongan yang kesemuanya tak ada yang membawa kalung seperti yang dibawanya.”

Muadzah wafat pada 83 H. Namun, kisah hidupnya menjadi teladan hingga kini.

silakan klik http://ummi-online.com/berita-584-shalat-hingga-fajar-di-malam-pengantin.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s