:: menuju Pernikahan SA-MA-RA ::

Image

Oleh Pramana Asmadiredja

Pernikahan adalah ibadah. Karena pernikahan tidak hanya sekedar upacara sakral untuk mengumumkan kepada masyarakat dan tetangga mengenai status dua orang insan yang baru melaksanakan pernikahan.

Karena itu, penting sekali bahwa sejak dari niat menikah harus selalu meletakkan peristiwa ini sebagai wujud pelaksanaan ketaatan kepada Allah SWT dan RasulNya. Karena di dalam pernikahan ada sebuah amanah, yang langsung datang dari Allah dan RasulNya.

Kuatkanlah di dalam hati, sejak dari awal untuk menjaga amanah ini hingga akhir hayat nanti. Hal ini menjadi sangat penting dalam proses kehidupan berumah tangga selanjutnya. Karena dengan menempatkan niat dan tekad itu, semoga Allah SWT selalu berkenan hadir dalam kehidupan kita selanjutnya, baik dikala senang maupun disaat duka.

Alquran mengajarkan kepada kita semua, dengan melalui pernikahan akan terwujud suasana kasih sayang, sakinah mawaddah warahmah (SAMARA), sebuah kebahagiaan, oase surgawi di dunia. Dan keluarga adalah sebuah wahana untuk mewujudkan kebahagiaan itu, bukan yang lain atau sebaliknya.

Berumah tangga atau berkeluarga adalah sebuah komitmen untuk mewujudkan kebahagiaan antara dua insan. Dan sungguh hal itu tidaklah mudah mendefinisikan kebahagiaan, namun jelas bahwa ia berlawanan dengan kesedihan, kegalauan, kekecewaan, kelesuan, kegelisahan dan sejenisnya. Karena itu, jadikanlah kebahagiaan berumah tangga sebagai visi abadi dalam membangun kehidupan keluarga.

Karena kebahagiaan adalah karakteristik surgawi. Karenanya kepemilikannya oleh manusia sangat tidak disukai oleh syetan. Sebagai musuh abadi manusia, syetan sang pewaris tahta neraka yang kekal, akan terus merongrong kebahagiaan yang menjadi milik manusia, anak keturunan Adam, para calon pewaris surga. Termasuk mereka yang menginginkan pernikahan sebagai jalan kebaikan dalam berkeluarga.

Dalam kehidupan berumahtangga, salah satu benteng terkuat untuk menjaga kebahagiaan dan keharmonisan dari rongrongan syetan itu adalah dengan saling membuka kemaafan serta membuka alur komunikasi. Bukalah pintu kemaafan selebar-lebarnya dan selama-lamanya kepada pasangan, karena ia akan mencegah masuknya kemarahan, awal dari ‘goyangan dahsyat’ syetan dalam menghancurkan kebahagiaan rumah tangga anak-anak Adam.

Hal ini sangatlah penting untuk selalu diingat, karena setiap diri kita (pasangan suami-istri) mempunyai karakteristik sendiri-sendiri yang sangat unik, lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Dan melalui pernikahan ini kedua pasangan hendak dipersatukan dalam sebuah mahligai rumah tangga.

Dan tentu saja, didalamnya ada kesalahpahaman yang merupakan sebuah keniscayaan. Karena itu membuka pintu maaf adalah salah satu “resep abadi” dan cukup ampuh dalam membangun rumah tangga bahagia, sakinah mawaddah warahmah (SAMARA). Dan lebih dari itu, memaafkan juga merupakan jalan menuju takwa.

Selain itu, Islam juga mengatur tanggung jawab, peran dan fungsi pasangan (suami-istri) dalam kehidupan berkeluarga. Maka sempurnakan dan tunaikanlah hal tersebut dalam perjalanan membangun rumah tangga. Semoga Allah SWT akan merahmati dan memberkahi perjalanan rumah tangga kita semua.

Tanggung jawab sebagai kepala keluarga pastinya berada dipundak suami. Dan tanggung jawab terbesar dan terberat adalah menjaga agar bahtera rumah tangga selalu berjalan menuju visi abadi, yaitu kebahagiaan dunia akhirat dan terhindar dari siksa neraka abadi.

Sebuah keteladanan mulia, ditunjukkan oleh Ibunda Khadijatul Kubra, istri Rasulullah SAW. Ia selalu memberikan keteduhan, kelembutan, dan juga dorongan yang tiada henti kepada suami untuk tetap istiqomah di jalan dakwah sehingga betapapun beratnya tantangan dalam rangka menuju visi abadi itu selalu dapat diatasi dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Dan salah satu fungsi pasangan suami istri seperti yang dituturkan dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 187 adalah seperti pakaian (hunna libaasullakum wa antum libaasullahun).. “mereka dalah pakaian bagimu dan kamupun adalah pakaian bagi mereka”. Dan fungsi pakaian selain untuk keindahan adalah juga untuk menutupi aurat, maka suami istri harus saling menutupi kelemahan pasangannya.

Seandainya kita melihat kelemahan pada pasangan, maka berdoalah agar dibalik kelemahan itu terdapat kebaikan yang tidak terduga. “Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya“. (QS An Nisa:19)

Selain itu, orangtua kita, ayah-ibu, menjadi tanda bakti kita untuk terus ditingkatkan. Karena dengan penuh kasih sayang dan kesabaran mengantar kita, anak-anaknya, hingga ke jenjang untuk memulai hidup baru, membangun rumah tangga bersama pasangan pilihan. Cinta dan kasih sayang orangtua kepada kita semua tidak akan pernah pudar, walau kita telah membangun rumah tangga. Wallahua’lam | @CepPangeran

link http://pkspesanggrahan.blogspot.com/2012/11/rumahku-surgaku-menuju-pernikahan-samara.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s